Rabu, 13 Januari 2010

si jamin dan si johan

SI JAMIN DAN SI JOHAN

Sinopsis Novel Angkatan 20an-30an


[ Identitas Buku
a) Judul : Si Jamin dan Si Johan

b) Pengarang : Merari Siregar

c) Penerbit : Balai Pustaka

d) Tempat terbit : Jakarta

e) Tahun terbit : 1921 (cetakan pertama) ; 2004 (cetakan kedua puluh satu)

f) Jumlah : 102 halaman
Halaman


[ Unsur-unsur Intrinsik
Ø Tema : Penderitaan dua saudara dalam menjalani hidup

Ø Alur : Maju


Ø Latar/setting : Malam hari di Pasar Baru saat hujan tiba

Ø Sudut pandang : Pengarang sebagai orang ketiga


Ø Gaya bahasa : Menggunakan bahasa yang komunikatif

Ø Tokoh penokohan :
1) Jamin : Baik hati, penurut, penyabar, rajin, jujur
2) Johan : Penurut, pendiam, penyabar
3) Bertes : Keras kepala, berani, mudah terbawa pergaulan
4) Inem : Jahat, berani
5) Mina : Baik hati, ramah, bertanggung jawab
6) Fi : Baik hati
7) Kong Sui : Baik hati, mudah dihasut

Ø Amanat : Jalanilah hidup sesuai yang Allah perintahkan


[ Ringkasan Cerita


Sore itu Inem ibu tiri Jamin dan Johan menunggui kedatangan Jamin. Bukan karena kuatir tetapi untuk meminta uang dari Jamin meminta-minta. Karena sebagian uang meminta-mintanya ia belikan nasi untuk ia dan adiknya. Inem pun marah hingga menendang si Jamin. Sebenarnya Inem menyiksa Jamin dan Johan merupakan hal yang biasa karena memang wanita itu sangat jahat. Untung Jamin dan Johan adalah anak yang sabar dan penurut. Mereka selalu mengingat perkataan almarhum ibunya untuk selalu di jalan Allah dan saling menjaga sampai kapanpun.

Jamin selalu disuruh ibu tirinya untuk meminta-minta padahal Jamin sendiri masih berumur 9 tahun dan adiknya 2 tahun di bawahnya. Waktu ibunya masih hidup rumah terawat, makanan di meja ada, barang perkakas masih terjaga. Jamin dan Johan disayang, namun Allah berkehendak lain. Ibunya meninggal. Rumah tak terawat, tak ada isinya lagi, Jamin dan Johan pun selalu disiksa. Tak itu saja, wanita itu suka ke warung candu untuk membeli candu hingga badannya terasa hangat dan tak berdaya dibuat oleh candu yang ia beli dari hasil uang Jamin meminta-minta.

Bertes, ayah Jamin dan Johan juga suka mabuk hingga kedua anak itu dipukulnya karena tak sadar. Bertes berasal dari Saparua, Ambon. Ia meninggalkan kota kelahirannya untuk menjadi serdadu karena ia pikir ia akan mendapat gaji besar. Waktu itu kedua orang tuanya tidak merestui tapi ia tidak memperdulikan hingga ia menjadi serdadu di Aceh. Saat Bertes sakit karena peperangan di Aceh ia baru sadar bahwa ia banyak salah pada orang tuanya maka ia bercita-cita kembali ke kampung halamannya dan mencari pendamping hidup. Ternyata orang tuanya telah meninggal. Ia begitu menyesal dan sangat merasa berdosa pada orang tuanya. Setelah itu, ia bertemu dengan Mina dan hidup dengan Mina di Prinselaan, Taman Sari. Awalnya rumah tangga mereka baik-baik saja apalagi ketika ia mempunyai 2 orang anak yaitu Jamin dan Johan karena memang Mina sendiri istri yang baik, sabar dan bertanggung jawab. Tetapi setelah 5 tahun pernikahannya, Bertes mulai terpengaruh teman-temannya menjadi pemabuk dan suka bertindak keras. Mina mulai sakit-sakitan hingga ia meninggal dunia. Bertes ternyata juga sering menyiksa Mina bila sedang mabuk.
Setelah Mina meninggal, ia kemudian menikah dengan Inem yang tidak berperangai baik. Sungguh malang nasib Jamin dan Johan sudah piatu sengsara pula hidupnya.

Ketika Inem habis mencandu, emosinya tidak dapat dikontrol lagi. Pagi-pagi ia mengusir Jamin untuk meminta-minta uang sampai mendarat 50 sen, baru ia dapat pulang. Dan diancamnya bila tidak pulang akan membuang adiknya ke sungai. Padahal Jamin tidak ingin berpisah dari Johan karena ia sangat sayang pada Johan begitu juga sebaliknya.
Jamin segera pergi untuk mencari uang tetapi sungguh sial hari itu karena sampai malam tak dapat dikumpulkannya uang 50 sen. Dari Pasar Baru, Pasar Ikan sampai Pasar Senen ia lalui, namun tak tercukupi juga. Hingga malam yang sangat dingin karena hujan itu membuatnya lemas karena tak satupun makanan yang masuk kecuali sedikit roti dari temannya serta sedikit air ditambah baju yang kotor dan compang camping membuat ia tak tahan lagi untuk berjalan. Tak kuasa lagi ia berjalan sampai akhirnya ia tidur di seberang warung obat milik Kong Sui dan Fi.
Kong Sui dan Fi sangat kasihan pada Jamin setelah ia mendengar cerita dari Jamin. Jamin pun sangat berterima kasih pada mereka atas bantuan mereka. Karena badannya sudah terasa baikan, ia pun meminta izin untuk pulana.

Di rumah Bertes pulang dari Cafe Pasar Senen dengan ketakutan karena tadi ada pertengkaran disana hingga seorang berlumuran darah. Karena waktu itu ia sedang mabuk jadi ia lupa yang ia lakukan karena ia takut dianggap polisi. Ia sampai berpura-pura dan menyuruh istrinya bila polisi datang untuk berbohong. Di saat itulah ia baru sadar bila hidupnya telah rusak. Ia lihat anaknya Johan, kemudian ia memeluknya untuk meminta maaf, tetapi Jamin tidak ada. Sekarang Bertes ingin taubat dan ia telah tau keburukannya dan istrinya. Beberapa saat kemudian Bertes dibawa oleh pihak polisi untuk diperiksa.

Setelah itu Jamin pulang karena ia telah dapat uang yang diinginkan ibu tirinya. Tetapi saat didepan rumah ia mendengar bahwa ayahnya ditangkap polisi. Uang itu pun segera diberikan pada ibu tirinya dan memberikan makanan kepada adiknya dari rumah Kong Sui. Namun baju yang diberikan Kong Sui dan FI diminta ibunya saat meraba celananya terasa ada cincin didalamnya untunglah Jamin dapat merayu ibu tirinya namun akhirnya ketahuan juga. Baju itu akan dijual Inem agar Jamin dapat meminta-minta lagi dan ia juga akan mendapat uang dari hasil menjual baju itu. Cincin itu adalah cincin Nyonya Fi karena mungkin Nyonya Fi lupa mengambil cincin itu saat dipakaikan pada Jamin. Ia pun merasa bersalah dan berjanji akan mengembalikannya pada Kong Sui dan Fi.

Suatu hari Jamin jalan-jalan di jalan Manggan Besar. Ia ingin sekali mengembalikan cincin itu. Tiba-tiba terdengar ada yang memanggilnya ternyata Johan. Johan telah mendapatkan kembali cicin itu. Tetapi sungguh malang, ketika mereka akan sampai di rumah Kong Sui Jamin tertabrak trem yang ada dibelakangnya karena ia berusaha menyelamatkan adiknya dan dirinya sendiri tetapi dirinya malah tidak selamat. Jamin dibawa orang-orang disekitar menuju rumah sakit Glodok. Johan tak mengerti yang terjadi kerena saat kakaknya tertabrak ia terpelanting ke samping jalan kemudian ia mengembalikan cincin itu dan menceritakan semua pada Kong Sui dan Fi.Mereka sangat sedih dan akhirnya Fi dan Johan pergi bersama ke rumah sakit.

Jamin tak berdaya lagi seisi ruangan menangis karena iba melihat Jamin. Sekarang Johan bisa mengerti benar bagaimana persaudaraan. Akhirnya Jamin meninggal dunia dengan tenang. Ia dikuburkan da Mangga Dua.
Johan sekarang ikut Kong Sui dan Fi yang menyayanginya dan dia pun sekarang bersekolah.





[ Kesimpulan :
Persaudaraan yang saling mengasihi adalah hal yang indah dan perlu dijaga. Hal inilah yang patut kita tiru. Dan apabila kita melakukan salah sebaiknya segera bertaubat karena pertaubatan yang tulus akan diterima oleh Allah.


Kelebihan : Novel ini banyak mengajarkan kita tentang arti pentingnya sebuah keluarga dan persaudaraan. Juga banyak mengajarkan kita tentang nilai-nilai agama.


Kekurangan : novel ini tidak menceritakan bagaimana akhir nasib ibu tirinya (Inem) itu.


Nama Kelompok : -Ayu Triastuti
-Cindy Swastiratu
-Katharina Edwina S.
-Yoana Puspita
Kelas 11 Ipa 4

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar